Lubuk Dalam, Ogan Komering Ilir

Matahari mulai jatuh di ufuk barat ketika saya tiba di jalan masuk desa Lubuk Dalam.

Desa ini terletak di Kecamatan Kota Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir di Sumatera Selatan. Di ujung selatan kecamatan, letaknya ada di pinggir jalan raya Lintas Timur Sumatera, jalan yang sejajar dengan anak sungai Komering.

Satu dari dua kabupaten penelitian saya di Sumatera Selatan adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir; kabupaten yang lain adalah Musi Banyuasin. Di Sumatera Selatan, desa Lubuk Dalam merupakan salah satu dari sekitar 50 desa yang menjadi lokasi kajian saya tentang ekonomi pekebun sawit skala kecil.

Pilihan lokasi survey di Lubuk Dalam didorong oleh beberapa alasan. Salah satu alasan penting adalah di desa ini bermukim para pekebun sawit mandiri. Mereka menyebut kebun sawit mereka sebagai kebun masyarakat. Sawit dari kebun ini dijual kepada pengepul atau toke sawit yang akan membawa sawit tersebut kepada pabrik terdekat.

Saya bertemu kepala desa Lubuk Dalam untuk meminta izin melakukan penelitian. Dalam perbincangan kami, saya menjadi tahu bahwa sawit adalah komoditas yang baru di sana. Sebelumnya masyarakat berkebun padi dan jeruk. Tahun 2010 masyarakat Lubuk Dalam mulai berkebun sawit.

“Jeruk yang ada di Tanah Abang itu dari sini, kami ekspor ke Jakarta,” ujar bapak Danak, kepala desa Lubuk Dalam. Pak Danak berasal dari tanah Sunda dan sejak kecil telah merantau ke Sumatera.

Selain pertimbangan sampling pemilihan lokasi desa, ada dua hal menarik perihal pekebun Lubuk Dalam bagi saya yang muncul usai perbincangan dengan kepala desa.

Hal pertama adalah preferensi pekebun atas komoditas pertanian. Masyarakat Lubuk Dalam mulai berkebun sawit terbilang belum lama, sejak 2010, padahal sawit sebetulnya bukan tanaman baru di sekitar situ. Sebagai contoh, di kecamatan Lempuing Jaya, kecamatan tetangga Kota Kayu Agung dan tak jauh dari Lubuk Dalam, perkebunan sawit industrial telah dimulai sejak tahun 1990. Karena tergolong baru, pekebun sawit di desa Lubuk Dalam tidak menganggap penanaman kembali atau replanting sebagai kebutuhan. Ini berbeda dengan katakanlah kebun sawit yang tergolong tua di desa-desa penelitian saya yang lain. Misalnya desa-desa di Sungai Lilin, kabupaten Musi Banyuasin, di mana replanting adalah perkara penting dalam pembicaraan antar pekebun sawit.

Hal kedua adalah alasan perpindahan pilihan komoditas. Sudah disinggung di atas, warga Lubuk Dalam berkebun jeruk sebelum berkebun sawit. Berkebun jeruk terpaksa berhenti lantaran serangan penyakit kuning atau Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) sebagaimana ia dikenal secara teknis dalam khasanah perkebunan jeruk. Terkena penyakit kuning, daun dan buah jeruk berwarna kuning sebagian atau keseluruhan, sampai akhirnya pohon jeruk itu mati. Buah jeruk dari pohon yang terkena biasanya berukuran kecil, tak berbentuk semestinya, berkulit tebal, berwarna hijau di bagian bawah, dan terasa pahit.

Saya berandai-andai. Seumpama informasi hama, sumberdaya dan kecakapan budidaya jeruk pada waktu itu telah dimiliki petani Lubuk Dalam, penyakit kuning mungkin saja bisa ditangkal dan dikendalikan. Dalam kaitan itu, barangkali adalah salah satu kemungkinan yang masuk akal apabila petani tidak berpindah pada komoditas sawit dan tetap berkebun jeruk.

Dua hal ini, yakni preferensi komoditas dan shifting commodities ke (dan dari) sawit, adalah bahan penelitian yang cakep untuk digali lebih lanjut. Secara khusus, mereka menarik diteliti untuk memahami fondasi mikro dari komoditas ekonomi dan skema-skema penghidupan alternatif yang lebih menarik di mata pekebun sawit sekaligus lebih berkelanjutan dari segi lingkungan hidup.

Sepanjang perjalanan saya menuju Palembang, tampak sejumlah spanduk dipasang di pinggir jalan. Matahari telah lama ditelan ufuk barat. Isi spanduk berisi himbauan pemerintah agar warga masyarakat tidak bakar hutan. ***

Leave a Reply